| Saatnya juga Mem-branding Diri di Twitter |
|
|
|
| Written by Dwiarko Susanto | ||||||
| Sunday, 18 July 2010 09:36 | ||||||
|
Twitter telah menjadi situs jejaring sosial di internet terpopuler ke-2 setelah Facebook. Data hingga akhir tahun lalu menyebutkan, lebih dari satu juta orang memiliki akun di Twitter dan 250 ribu di antaranya secara aktif mengirim lebih dari 3,5 juta posting per hari. Memasuki tahun 2010, analis Twitter Kevin Weil memperkirakan, jumlah twit per hari tak kurang dari 50 juta, lompatan yang luar biasa dari angka pada 2007 (5000 twit per hari) dan 2008 ( 300 ribu twit per hari). Twitter diluncurkan pertama kali pada Agustus 2006. Angka-angka tersebut mengindikasikan adanya lalu lintas informasi yang fantastis. Twitter menjadi sebuah pasar besar informasi bebas yang memaksa kaum pemasar dan kalangan bisnis secara umum untuk melirik dan memperhitungkannya sebagai media baru untuk kepentingan-kepentingan komersial. Di Indonesia kita melihat, dari hari ke hari mulai banyak produk-produk, brand, organisasi yang masuk ke Twitter. Ini belum termasuk kampanye-kampanye marketing dan branding jangka pendek yang juga memanfaatkan Twitter sebagai alat untuk menjangkau audiens. Termasuk, individu-individu artis, seniman, politikus, kandidat pimpinan daerah yang mencoba bereksperimen dengan mikroblogging untuk personal branding. Sebenarnya, disadari atau tidak, sebagian besar aktivitas di Twitter pada dasarnya mengarahkan individu untuk melakukan personal branding. Ungkapan yang sering kita dengar adalah, “you are what you tweet”. Sekarang, ungkapan tersebut banyak dimodifikasi, salah satunya yang sering dikatakan adalah, “twit-mu harimau-mu”. Maknanya kira-kira bahwa persepsi orang lain atas diri kita terbentuk lewat rangkaian twit kita. Bagi orang-orang “biasa” yang memang tak terlalu memiliki kepentingan terhadap politik pencitraan publik layaknya seorang politikus atau artis, personal branding mungkin bukan isu utama ketika “bermain” di Twitter. Namun, bayangkan seorang Luna Maya. Sekali dia mem-posting pernyataan yang isinya memaki pekerja infotainment, orang dengan mudah menyimpulkan bahwa itulah –setidaknya salah satu– karakter “asli” sang artis: pemarah. Dan, hal itu tentu saja bisa merugikan citra yang sebelumnya dia bangun sebagai seorang selebritas. Ada dua hal yang perlu Anda perhatikan saat memakai media sosial online yaitu :
Sekali lagi setiap media sosial online mempunyai karakteristik tersendiri untuk membantu Anda untuk membangun personal Brand.
Powered by !JoomlaComment 4.0alpha3
!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved." |